Pangrok Sulap

Pangrok Sulap adalah sebuah kolektif seni yang didirikan pada tahun 2010 di Ranau, Sabah. Kolektif ini terdiri dari seniman, kurator, musisi, desainer, penulis, serta aktivis komunitas. Keberagaman latar belakang tersebut menjadikan Pangrok Sulap sebagai kolektif yang dinamis dan memungkinkan mereka menjalankan berbagai program seni dalam spektrum yang luas. Misi utama Pangrok Sulap adalah memberdayakan komunitas melalui seni, dengan fokus pada pengembangan sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan.

Sejak tahun 2013, teknik cukil kayu (woodcut) menjadi medium utama mereka dalam menyebarkan pesan-pesan sosial, baik melalui pameran, merchandise buatan tangan, maupun banner. Mereka sangat menjunjung tinggi semangat DIY (Do-It-Yourself) yang dirangkum dalam slogan “Jangan Beli, Bikin Sendiri”.

Pada tahun 2019, Pangrok Sulap berpindah ke Kota Kinabalu untuk memperluas jejaring dengan ekosistem seni lokal. Pada 2022, mereka mendirikan Ruang Tamu Ekosistem sebagai ruang seni berbasis komunitas. Kemudian pada tahun 2024, Pangrok Sulap meluncurkan program residensi yang bertujuan mendorong pendidikan alternatif, kolaborasi lintas disiplin, serta memperkuat hubungan antara seni dan masyarakat.

Judul : Prints from the Roots

Medium : Peper dan Kain

Ukuran : 63.5 x 51cm / 54.5 x 47cm

Tahun : 2016

Tinta offset, cetak cukil kayu di atas kertas manila, tinta berbahan dasar karet, cetak saring di atas kertas manila Seri cetakan hitam-putih ini (enam karya) merefleksikan komitmen berkelanjutan Pangrok Sulap dalam menyuarakan kisah-kisah dari akar rumput, kisah tentang perlawanan, identitas, dan realitas kehidupan masyarakat di berbagai penjuru Sabah. Menggunakan teknik cukil kayu dan sablon, kami menyoroti isu-isu sosial dan lingkungan yang mendesak, dengan berdiri dalam solidaritas bersama mereka yang paling terdampak oleh pembangunan yang tidak adil dan penghapusan budaya.

  • “Save Ulu Papar, Stop Papar Dam” menentang proyek bendungan yang mengancam tanah adat dan ekosistem.

  • “Rakyat Bersatu Lawan Tirani” menyerukan perlawanan kolektif terhadap sistem yang menindas.

  • “Di Belakang Saya Ada Orang Kampung, Di Belakang Orang Kampung Ada Saya” menyuarakan tanggung jawab bersama untuk berdiri bersama komunitas pedesaan.

  • “People of the Land” merayakan identitas masyarakat adat dan hubungan leluhur dengan tanah.

  • “Beads Not Dead” menghormati kerajinan tradisional sebagai bagian budaya yang hidup dan terus berkembang.

  • “Gara-Gara Karbon Semua Jadi Korban” mengkritik dampak merusak dari pembangunan berbasis karbon.

Seluruh karya dicetak manual di atas kertas manila menggunakan tinta offset atau tinta berbahan dasar karet, setia pada semangat DIY (Do It Yourself) kami. Melalui cetakan ini, kami ingin memperkuat suara-suara dari pinggiran, memicu percakapan, dan menginspirasi aksi kolektif yang berpijak pada empati, keadilan, dan solidaritas.

Selimut Pangrok (2010 – Sekarang)

Selimut ini menjahit bersama potongan-potongan karya yang dibuat selama 15 tahun terakhir, membentuk arsip visual dari suara dan aktivisme Pangrok Sulap serta pendekatan berkesenian kami yang berpusat pada komunitas.