Bethany Balan

Bethany Luhong Balan adalah seniman multidisiplin dan penyair asal Sarawak, Borneo. Proyek-proyek terbarunya antara lain berpartisipasi dalam pameran seni Dan Lain Lain yang digagas oleh Minority Agenda (Brunei), yang mengeksplorasi makna menjadi “yang lain”, serta berkontribusi sebagai ilustrator untuk Aram Bekelala, sebuah Community Engagement Guide yang diprakarsai oleh British Council, yang menawarkan pendekatan dalam bekerja bersama komunitas adat dan kelompok marjinal di Malaysia. Karyanya banyak berangkat dari serta diekspresikan melalui sudut pandang warisan budaya Kayan yang ia miliki. Ia tertarik pada praktik juxtaposition, dan sebagian besar karyanya—baik puisi maupun seni tekstil sulam—mengeksplorasi ketegangan antara upaya menemukan kembali identitas budaya dengan tantangan menjadi individu Dayak di dunia modern.

Bethany Balan

Judul : Ingen

Medium : Mix Media 

Ukuran : 85x182cm

Tahun : 2024

Sebagai seorang Kayan, saya percaya bahwa dunia alam tidak terpisahkan dari kebudayaan. Ketika pengetahuan adat mulai hilang, kita juga kehilangan resep-resep kearifan untuk merawat lingkungan. Setiap elemen dalam karya ini mencerminkan kegelisahan saya terhadap masa depan: sebuah ingen keranjang besar dalam bahasa Kayan yang biasa digunakan untuk membawa hasil panen dari ladang yang kosong dan terbalik, dengan tulang-tulang rapuh serta tiruan hasil bumi yang kasar tumpah keluar darinya.

Benang sulam yang diwarnai dengan kulit bawang, bunga rosela, dan kopi, lambat laun akan memudar. Stoples kecil berisi tanah yang menjangkar karya ini di sisi kiri dan kanan. Santubong di Barat, Sungai Asap di Timur. Manik-manik tanah liat tak berglasir dari Lawas tetap mentah dan belum selesai. Representasi kasar durian, engkabang, dan lada hitam tampak seolah digambarkan berdasarkan ingatan atau cerita, bukan dari pengalaman langsung.

Namun, tak ada yang benar-benar mati sebelum kita berhenti membicarakannya, atau menciptakannya kembali. Mungkin inilah cara saya membayangkan masa depan yang saya rindukan: masa depan di mana pengetahuan dan nilai-nilai masyarakat adat tidak hanya diakui, tetapi dihormati, hidup, dan terus menyala.”