

Apa Kata Wanita Orang Asli
Kolektif Apa Kata Wanita Orang Asli (AKWOA) atau “Young Indigenous Women Speak Up” terdiri dari 10 perempuan Orang Asli berusia 22 hingga 33 tahun yang berasal dari berbagai suku di Semenanjung Malaysia.
AKWOA bermula dari rangkaian sesi penguatan kapasitas pada tahun 2018 yang diselenggarakan oleh Freedom Film Network, sebuah organisasi media berbasis hak asasi manusia yang hingga kini terus mendampingi dan membimbing kami. Dari peserta yang awalnya pemalu, kami tumbuh menjadi produsen media yang percaya diri, berani bersuara, dan aktif memperjuangkan hak-hak kami. Misi kami adalah memberdayakan anak perempuan, perempuan, dan komunitas Orang Asli untuk membela hak-hak mereka melalui media. Kami berupaya memperkuat kapasitas kolektif serta menginspirasi lebih banyak perempuan muda untuk menjadi advokat dan pemimpin.
Kami menyelenggarakan berbagai kegiatan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan kami, serta memproduksi video-video pendek yang merefleksikan realitas hidup dan perjuangan yang kami alami. Melalui karya-karya ini, kami berupaya meningkatkan kesadaran publik dan mendorong perubahan, baik di tingkat masyarakat luas maupun pembuat kebijakan.


Judul : Selai Kayu Yek (Roots of My Land)
Medium : Short Film
Durasi : 12 minutes
Tahun : 2020
Bahasa : Malay, Temiar
Aleh, seorang perempuan muda dari komunitas Orang Asli, berjuang untuk mendapatkan dukungan dari desanya ketika tanah leluhur keluarganya mulai diganggu dan diambil alih. Karena takut kehilangan tanah yang juga digunakannya untuk menanam ubi kayu, ia mencari bantuan dari Rien, seorang YouTuber Orang Asli yang terkenal, untuk membagikan dan mengekspos kisahnya. Namun, Rien awalnya menolak karena ia percaya bahwa komunitas mereka seharusnya mengejar kehidupan yang lebih baik di kota, bukan bertahan hidup dari pertanian di tanah sendiri. Pada akhirnya, Aleh dan Rien menyadari bahwa mereka memiliki perjuangan yang serupa, yang berakar pada identitas mereka sebagai Orang Asli. Bersama-sama, mereka menemukan suara mereka dan mulai bersuara. Secara konseptual, Aleh mengangkat tema hak atas tanah adat, ketegangan antar generasi, dan identitas. Cerita ini menyoroti kekuatan narasi dan solidaritas dalam perjuangan akar rumput melawan ketidakadilan.
